Agen Mix Parlay

8 May 2017

Alexis Sanchez Baru Akan Membicarakan Masa Depan Setelah Musim Kompetisi Berakhir

Alexis Sanchez Baru Akan Membicarakan Masa Depan Setelah Musim Kompetisi Berakhir
By

Penyerang internasional Chile Alexis Sanchez mengaku akan menunda pembicaraan mengenai masa depannya di Arsenal hingga musim 2016/17 berakhir. Sang penyerang mengaku kecewa dengan hasil yang diraih Arsenal di musim ini sehingga ada kemungkinan dirinya meninggalkan Stadion Emirates di bursa transfer musim panas mendatang. Kontrak Alexis Sanchez di Arsenal akan berakhir pada akhir musim 2017/18 mendatang yang berarti sang pemain akan segera memasuki tahun terakhir kontraknya di Arsenal. Memperpanjang kontrak atau menjual sang pemain di musim panas nanti akan menjadi pilihan manajemen Arsenal jika tidak ingin kehilangan Alexis Sanchez dengan status free transfer di akhir musim 2017/18. Beberapa klub elit Eropa dikabarkan sangat tertarik mendatangkan Alexis Sanchez jika sang pemain memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya di Arsenal. Kubu Bayern Munich bahkan secara terbuka telah mengatakan siap membayar 55 juta Poundsterling untuk mendapatkan Alexis Sanchez.

 

Sang pemain mengaku kecewa dengan hasil yang diraih Arsenal di musim ini; terlebih lagi setelah kekalahan yang dialami di White Hart Lane. Alexis Sanchez mengaku Arsenal ia anggap sebagai salah satu klub yang memainkan sepakbola terbaik. Karena alasan itulah ia memilih bergabung di Arsenal daripada bergabung ke Liverpool sebagai bagian dari transaksi pembelian Luis Suarez oleh Barcelona pada waktu itu. Optimisme meraih gelar juara yang prestisius bersama Arsenal diakui Alexis Sanchez menurun meski musim ini ia masih berpeluang membawa Arsenal menjadi juara Piala FA.

 

Alexis Sanchez mengaku akan berdiskusi dengan Arsene Wenger di akhir musim ini untuk menentukan apa yang terbaik bagi Arsenal, bagi dirinya sebagai pemain dan juga bagi Wenger selaku manajer. Membicarakan masa depan dirinya di Arsenal pada saat ini disebut Alexis akan menggangu fokusnya pada target tersisa di musim ini yaitu memenangkan gelar Piala FA dan lolos ke LIga Champions Eropa musim depan. Sebagai pemain; Alexis Sanchez mengaku sangat terpukul dengan kekalahan di White Hart Lane pada pekan lalu. Hanya saja kemenangan atas Manchester United di Stadion Emirates ternyata dapat menjadi momen yang dapat membangkitkan semangat para pemain menjelang final Piala FA.

5 April 2017

3 Hal Yang Jadi faktor Pembeda Antara Barcelona dan Real Madrid

3 Hal Yang Jadi faktor Pembeda Antara Barcelona dan Real Madrid
By

Bicara mengenai sepak bola Spanyol rasanya kurang lengkap jika tidak menyinggung perseteruan abadi antara Barcelona dengan Real Madrid. Perseteruan kedua klub ini telah mendarah daging di seantero Spanyol bahkan di seluruh dunia. Dua klub besar yang sama-sama bersaing untuk membuktikan sebagai jawara sejati tanah matador Spanyol. ada beberapa hal yang jadi faktor beda Barcelona dan Real Madrid.

3 Hal Yang Jadi faktor Pembeda Antara Barcelona dan Real Madrid

Sejauh ini kedua tim tersebut tampil sangat beringas pada setiap musim kompetisi La Liga. Kedua tim selalu menyajikan permainan ciamik dengan skuad pemain-pemain bintang. Setiap pertemuan yang mempertemukan Barca dan Madrid akan menjadikan fokus khusus pecinta sepak bola dunia. Namun, jika dicermati secara mendalam ada banyak hal yang beda Barcelona dan Real Madrid, diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Hasil Dari Pembinaan

Beda Barcelona dan Real Madrid yang pertama adalah mengenai kekuatan pemain dalam masing-masing tim. Dimulai dari kedalaman kualitas skuad yang ada di Barcelona. Tim kota Catalan ini selama beberapa tahun kompetisi terakhir selalu dihuni oleh pemain yang berkualitas hebat dan dianggap merata. Yang spesial dari skuad pemain ini adalah hampir semuanya merupakan produk lokal.

Produk lokal yang dimaksud adalah pemain inti skuad Barcelona yang merupakan lulusan akademi sepak bola binaan Barcelona yang bernama Akademi La Masia. Selama perjalanan Klub, akademi ini selalu menyumbangkan pemain-pemain inti dalam skuad inti El Barca. Ini yang jadi beda Barcelona dan Real Madrid. Secara umum tim Barca selalu memberikan kepercayaan lebih kepada produk lokalnya.

Selanjutnya, melihat kedalaman skuad Real Madrid yang selama ini dikenal hebat justru berasal dari pemain impor di luar akademi Real Madrid. Skuad hebat Madrid selalu dihuni para pemain bintang dengan gaji selangit, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan prestasi secara instan. Dari pemain kedua klub ini, maka akan terlihat jelas beda Barcelona dan Real Madrid sejauh ini.

  1. Pelatih

Beda Barcelona dan Real Madrid Yang berikutnya adalah mengenai kebijakan pelatih yang dipilih oleh manajemen tim. Selama kurang lebih 10 musim kompetisi terakhir banyak pelatih top dunia yang berhasil didaratkan di kedua tim. Untuk Real Madrid Lebih banyak terhitung gonta-ganti pelatih. Semua pelatih yang direkrut Madrid selalu berlabel top, antara lain Carlo Ancelotti dan Juga Jose Mourinho.

Semua pelatih top yang pernah menangani Madrid selalu membawa torehan manis tersendiri. Namun baru di tangan kepelatihan Zidane lah Madrid berhasil meraih gelar ke sepuluh trofi Liga Champions Eropa. Kenyataan sebaliknya justru terjadi di kubu lawan yaitu Barcelona. Selama 1 dekade terakhir El Barca tak banyak ganti pelatih, hanya tercatat beberapa nama saja.

Deretan pelatih Barcelona tersebut hanya sekitar 4 nama termasuk pelatih Barca sekarang yaitu Luis Enrique. Beda Barcelona dan Real Madrid pada masalah kursi pelatih ini selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan.

  1. Gaya Main

Beda Barcelona dan Real Madrid yang ketiga adalah mengenai cara bermain kedua tim dalam setiap pertandingannya. Barcelona menggoncang dunia sepak bola dengan gaya main pendek merapat yang dikenal dengan istilah tiki-taka ala Barcelona. Gaya bermain seperti ini sangat efektif diterapkan Barca sehingga berhasil mendulang beberapa prestasi besar.

Sedangkan Real Madrid dikenal dengan pola permainan yang jauh berbeda. Kubu Madrid lebih mengandalkan kecepatan kedua lini sayap dalam menyerang serta mencetak gol. Sehingga terlihat jelas beda Barcelona dan Real Madrid untuk masalah pola main

Posted in: Liga Spanyol, Sepakbola
1 April 2017

Arrigo Sacchi, Pelatih Legenda AC Milan

Arrigo Sacchi
By

Bila membicarakan AC Milan, mungkin Anda pernah mendengar tentang Arrigo Sacchi. Hari ini, pelatih terbaik sepanjang masa AC Milan ini berulang tahun.

Arrigo Sacchi merupakan pemimpin Milan di masa 1980an. Saat itu, Milan belumlah menjadi momok menakutkan di Serie A. Terpuruk di klasemen, Milan dipandang remeh di Serie A.

Presiden Milan, Silvio Berlusconi, memang suka sekali mengganti pelatihnya dengan seseorang yang belum terkenal. Beberapa nama kurang terkenal yang pernah melatih Milan antara lain Leonardo de Araujo, Filippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Massimiliano Allegri, Sinisa Mihajlovic, Cristian Brocchi, dan Vincenzo Montella.

Tentu saja nama-nama di atas kalah terkenal dibanding Carlo Ancelotti yang pernah melatih Milan. Hasilnya tentu saja sebanding. Milan minim prestasi selama dipegang pelatih di atas. Hanya Piala Super Italia dan satu juara Serie A yang pernah dipersembahkan selama pergantian beberapa pelatih tersebut.

Saat penunjukkan Arrigo Sacchi, Berlusconi sebenarnya juga berspekulasi. Sacchi sedang melatih AC Parma (saat ini berada di Lega Pro) ketika dua kali mengalahkan AC Milan. Mungkin inilah yang menjadikan Berlusconi tertarik untuk menjadikan Sacchi sebagai pelatih AC Milan.

Sacchi sendiri belum berpengalaman ketika itu. Ia hanya menangani tim usia mudah dan divisi bawah. Penunjukkan Sacchi diragukan berbagai pihak. Namun, Berlusconi berharap banyak pada Sacchi.

Kepiawaian Arrigo Sacchi.

Revolusi pun diadakan. Ketika sebagian besar tim Italia bermain dengan filosofi permainan bertahan yang populer saat itu, Sacchi justru berbuat sebaliknya.

Milan yang kesulitan secara finansial dan kualitas diubahnya menjadi tim menyerang. Pemain muda berbakat seperti Franco Baresi, Carlo Ancelotti, dan sang legenda Paolo Maldini direkrut. Pemain Belanda van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard juga memasuki skuad Milan.

Tidak tanggung-tanggung. AC Milan bangkit secara luar biasa. Delapan gelar bergengsi direbut Milan ketika itu, termasuk 2 kali juara Liga Champion berturut-turut pada tahun 1989-1990.

Milan pun dijuluki “The Dream Team”. Fans AC Milan dan seluruh dunia pun terkesima dengan AC Milan racikan Sacchi.

Keberhasilan bersama AC Milan pun berujung nasib baik bagi Sacchi. Ia ditunjuk sebagai pelatih timnas Italia menggantikan Azeglio Vicini yang gagal membawa Gli Azzurri ke Piala Eropa 1992.

Tugas pertama Sacchi adalah meloloskan Italia ke Piala Dunia 1994. Kembali Sacchi melakukan rombakan besar. Tim bertahan Italia ia ubah menjadi tim menyerang. Sesuatu yang melawan pendapat publik saat itu.

Beberapa pemain bintang tidak dipanggil karena tidak sesuai dengan permainannya. Roberto Mancini, Gianluca Vialli, Walter Zenga, dan Giuseppe Bergomi termasuk pemain bintang yang didepaknya.

Sebagai pengganti, ia memanggil Roberto Baggio. Salah satu pemain yang kelak menjadi bintang dan meraih Ballon d’Or pada tahun 1993. Baggio juga menjadi anak emas Sacchi di Gli Azzurri, sama seperti halnya van Basten di AC Milan.

Pembuktian pun ia lakukan dengan meloloskan Italia ke Piala Dunia 1994.

Piala Dunia 1994.

Pada Piala Dunia 1994, Italia tampil kurang mengesankan di babak awal. Mereka kalah pada pertandingan perdana melawan Irlandia. Namun, Gli Azurri bangkit di 2 pertandingan sisa dan menjadi peringkat ketiga terbaik. Italia lolos ke babak selanjutnya karena waktu itu sistem Piala Dunia berbeda dengan saat ini (Anda bisa membaca tentang peraturan Piala Dunia 1994 di https://en.wikipedia.org/wiki/1994_FIFA_World_Cup).

Tim Italia membuat langkah yang sangat baik hingga mencapai final melawan Brazil. Sayangnya, Italia harus kalah dalam drama babak penalti. Pencapaian hingga final ini menjadikan Sacchi terkenal dan masih dipercaya untuk menangani Gli Azzurri di perhelatan Piala Eropa 1996.

Piala Eropa 1996.

Italia kembali lolos ke Piala Eropa 1996. Namun, nasib sial tampaknya dialami Italia. Tergabung dalam grup neraka bersama Jerman, Russia, dan Republik Ceko, Italia gagal lolos dari babak grup.

Sacchi pun harus meninggalkan kursi kepelatihan timnas Italia tanpa gelar.

Bagaimana pun juga, Sacchi akan selalu dikenal sepanjang masa sebagai salah satu pelatih tersukses AC Milan.

Sampai saat ini, bila orang membicarakan AC Milan, pastinya akan teringat akan tim besutan Sacchi dan sepak terjang trio Belanda van Basten, Gullit, dan Rijkard.

Selamat ulang tahun, Mister Sacchi.